Menjaga Kehormatan Orang Lain dengan Menjauhi Dosa Ghibah
Oleh: Ustadz Muhammad Nuzul Dzikry
Kita kembali mengangkat sebuah penyakit yang senantiasa menggrogoti hati umat islam, mengotori lisan seorang muslim, yaitu tentang masalah Ghibah. Sebab-sebab seseorang terjerumus dalam dosa ghibah yaitu:
1. Lemah iman
Bisa dipastikan bahwa orang yang mengghibah, seislami apapun, sesunnah apapun penampilannya, sebanyak apapun ibadahnya, namun jika ia tidak bisa menjaga lisannya dari ghibah maka ia adalah seseorang yang memiliki iman yang lemah. "Barangsiapa yang beriman kepada Allah, beriman kepada hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam." Dan semua ulama bersepakat bahwa ghibah bukanlah perkataan yang baik. Jadi iman orang yang mengghibah perlu dievaluasi.
2. Emosi, amarah yang ada dalam dada seseorang
Ketika seseorang marah dengan temannya, emosi, dengan sahabatnya, maka biasanya ia ungkapkan dengan menyebutkan keburukan temannya tersebut. Oleh karena itu salah satu sifat yang tidak bisa dipisahkan dengan orang-orang yang bertakwa sebagaimana yang Allah firmankan dalam QS. Ali Imran : 133-134, yang artinya "orang-orang yang mampu meredam amarahnya."
3. Mencari ridha manusia
Betapa banyak orang yang tidak bermaksud mengghibah, tetapi agar dapat diterima di suatu komunitas, agar bisa diakui oleh teman-teman pergaulannya. tidak enak untuk angkat kaki ketika teman-temannya membicarakan seseorang. akhirnya ia tetap diam, dia mendengarkan, terkadang ia tersenyum, akhirnya ia terjatuh dalam ghibah. dalam hadis riwayat At-Tirmidzi: "Barangsiapa yang mencari ridha manusia dengan menghalalkan segala cara, dengan mengerjakan sesuatu yang dimurkai oleh Allah, maka Allah akan biarkan ia dengan manusia tersebut." Padahal apa yang manusia bisa lakukan terhadap kita? Apakah karena takut dikucilkan? Walaupun satu dunia ini mengucilkan, itu tidak akan mengubah takdir kita. Bukankah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah memberikan nasehat yang sangat berharga kepada Abdullah bin Abbas, "Ketahuilah wahai Abdullah bi Abbas, apabila seluruh manusia bersepakat untuk memberi manfaat kepadamu, mereka tidak akan berhasil kecuali apa yang Allah telah takdirkan kepadamu. Dan sebaliknya, jika mereka seluruhnya bersepakat untuk mencelakakan dirimu, mereka tidak akan berhasil kecuali apa yang Allah takdirkan menimpa dirimu." Buang rasa tidak enak itu, gantilah prinsip "Nggak enak sama manusia" menjadi "Nggak enak sama Allah".
4. Ingin Menonjolkan Diri
Menonjolkan diri dilakukan dengan menjatuhkan pesaing kita, para kompetitor yang lain, dan salah satu caranya adalah dengan mengghibahi dia, menyebutkan kekurangannya, jelaskan kelemahannya, bongkar aib-aibnya.
5. Suka Bercanda
Awalnya bercanda menceritakan kesalahan orang, membuat sebuah humor segar dengan kekurangan fisik orang, kelemahan orang, supaya yang mendengar tertawa terbahak-bahak. Hati-hati dalam bercanda, hati-hati dalam tertawa, karena agama islam melarang bercanda dan tertawa yang berlebih-lebihan. Hati-hati dalam memilih konten bercanda kita
6. Dengki pada orang
7. Waktu Luang yang Tidak Digunakan untuk Beribadah Kepada Allah
"Ada dua nikmat yang sering dilalaikan oleh manusia yaitu nikmat kesehatan dan waktu luang."
Mendengarkan ghibah hukumnya HARAM. Oleh karena itu jangan sampai tidak enakkan dengan orang lain, mencari ridha orang. kita harus pergi dari majelis tersebut, kita harus tegas, atau kita ubah topik pembicaraan itu. Karena semua pancaindera kita akan dihisab oleh Allah. Dalam firmannya QS surah.Al-Isra: 36, "Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati akan ditanya oleh Allah". Dan salah satu tanda orang beriman adalah jika mereka mendengarkan sesuatu yang sia-sia atau tidak bermanfaat maka mereka akan berpaling (QS. Al-Qasas:55).
Dalam HR.Bukhari yang menceritakan tentang kisah Ka'ab bin Malik yang tidak ikut perang Tabuk. ketika Ka'ab dibicarakan oleh seseorang dari Bani Salimah, "Wahai Rasulullah, Ka'ab bin Malik tidak ikut perang bersama kita karena dia sedang menikmati dirinya dengan pakaiannya (terfitnah dengan dunia)". Mu'ad bin Jabal berkata, "Yang baru kamu katakan adalah ucapan yang buruk. Demi Allah ya Rasulullah, kami tidak pernah mendapatkan Ka'ab bin Malik kecuali di atas kebaikan". Ini adalah profil para sahabat, mereka membela kehormatan saudaranya dan tidak tinggal diam melihat saudaranya dighibahi. Padahal Mu'ad bin Jabal tidak mengetahui itu benar atau tidak. Namun ketika itu benar maka itu ghibah, dan kalaupun itu salah maka itu fitnah. sehingga tidak ada bedanya, sama-sama dua hal yang mendapat dosa di sisi Allah. Atau kalau kita tidak bisa menghentikannya, silahkan keluar dari majelis itu. Ketika kita ikut mendengarkan maka dosanya sama. Kalau tidak ada pendengar maka seseorang tidak akan bisa mengghibahi saudaranya. Keberadaan pendengar memiliki peran yang sangat vital dalam dunia perghibahan. Sehingga kalau kita mendengarkannya maka itu adalah ta'awun (tolong-menolong) dalam sebuah dosa besar yang bernama GHIBAH. Dosanya ditanggung sendiri-sendiri di akhirat nanti, pemimpin majelis ghibah tidak akan pasang badan melindungi kita dari azab, tidak akan bisa memikul dosa kita.
BERTOBAT DARI GHIBAH
Secara umum sama dengan bertobat dari dosa-dosa yang lain. Syarat sah tobat:
1. Ikhlas karena Allah, bukan karena takut manusia, bukan karena diancam oleh korban ghibah.
2. Meninggalkan ghibah
3. Menyesal sudah berghibah. terkadang orang yang tobatnya diterima menangis ketika mengingat dosa-dosa yang telah mereka lakukan dulu, mengingat dulu tanpa malu-malu dia memakan bangkai saudaranya
4. Bertekad untuk tidak mengulanginya lagi
5. Apakah harus minta maaf atau minta dihalalakan atau diikhlaskan kepada korban ghibah kita? atau tidak perlu, cukup kita dengan Allah saja yang tahu? Ini merupakan hal yang dibahas oleh para ulama, karena kaidah asal ketika dosa kita menyangkut hak orang lain, maka kita harus minta dihalalkan oleh mereka. Ada dua kemungkinan yang disampaikan oleh beberapa ulama:
Yang pertama, kondisi dimana korban kita tidak tahu bahwa kita mengghibahi dia. Kalau kita minta maaf membuat efek yang lebih buruk, akhirnya ukhuwah pecah, maka kita tidak perlu minta maaf padanya. Namun sebagai gantinya kita harus melakukan dua perkara, yaitu kita mendoakannya, agar dosa-dosanya diampuni oleh Allah, dimasukkan ke surga, dll dan yang kedua kita putihkan namanya di majelis-majelis ghibah yang kita tempati untuk mengghibahnya, sebutkan kebaikan-kebaikannya, buat manusia simpati dengannya.
Yang kedua, kondisi dimana korban telah tahu bahwa kita yang mengghibahi dia. Maka kita wajib minta maaf. Meminta maaf sampai dia mau memaafkan kita, karena selama dia tidak memaafkan maka kita akan repot pada hari kiamat nanti. Entahkah pahala kita diambil olehnya ataukah dosanya diberikan kepada kita. Kalau perlu tawarkan ganti rugi kepadanya, kompensasinya apa, kafaratnya apa? Bagaimana caranya agar anda mau memaafkan saya? Itulah repotnya punya masalah dengan manusia.
Wallahu a'lam bisshowab
Disadur dari www.Radiorodja.com
Disadur dari www.Radiorodja.com